Senin, 18 Juni 2018

Anak Ketiga Rasa Pertama (Cerita Vb2ac)

Sabtu, 2 Juni 2018

Usia kehamilan saya sudah memasuki 38 weeks, diusia ini saya sudah mulai merasakan braxton hicks atau kontraksi palsu yang ditandai perut sering kencang/kram. Sabtu pagi ini pun memang jadwal kontrol ke dr. S, ketika dicek oleh beliau sudah ada pembukaan 1, kepala bayi sudah turun ke panggul, ketebalan rahim 6 mm (normal)  dan berat badan bayi 2800 gram. Alhamdulillah beliau masih acc untuk persalinan normal. Diperkirakan 3 hari paling cepat atau 7 hari paling lambat sudah ada tanda2 lahir yang signifikan. Beliau menyarankan untuk "berhubungan" agar mempercepat pembukaan serviks, itu tips yang paling direkomendasikan selain jalan kaki, naik turun tangga, ngepel jongkok. Kalau makan nanas gimana dok? Mitos bu, yang ada nanti bayinya besar karena manis dari nanas madu pula πŸ˜¬πŸ˜¬πŸ˜¬

Flasback
Ini kehamilan ketiga saya dimana kehamilan pertama dan kedua proses persalinannya SC. Anak pertama karena sungsang dengan BB 3,5kg dan anak kedua gagal vbac sampai pembukaan 4 mandek, kepala bayi gak turun panggul dengan BB 3,6kg. Gede2 ya BB nya 🀦🏼‍♀️. 
Belajar dari kegagalan vbac anak kedua jadi ketika menjalani kehamilan anak ketiga ini lebih santai dan let it flow tapi tetap cari provider nakes yang support vbac. Alhamdulillah hanya ganti 1 obgyn, setelah tanya ke teman2 obgyn yang kiranya support vb2ac. Berjodohlah dengan dr. S. Beliau kasih kriteria jika ingin vbac, antara lain:
1. BB dibawah 3kg hingga akhir minggu kehamilan (syarat mutlak);
2. Ketebalan rahim mencukupi (dipemeriksaan akhir minggu kehamilan);
3. Kepala bayi masuk panggul.

Tiga poin itu yang lebih ditekankan, enaknya dengan beliau pun gak di PHP-in, pokoknya lihat minggu2 akhir kehamilan. Jadi saya pun gak berharap besar banget. Uniknya kontrol dengan beliau pun selama 9 bulan saya tidak menyinggung persoalan ruptur rahim atau resiko2 terburuk vb2ac. Mungkin karena pasien gagal vbac yang dahulu, jadi saya sudah agak jenuh jika bahas itu maka saya pun gak tanya2 tentang resiko itu πŸ˜¬

Untuk mencapai kriteria tersebut, saya melakukan beberapa hal seperti:
1. Mengurangi karbohidrat dan gula. Makan nasi sedikit dan lebih banyak makan lauk pauk nya, begitu terus makan pagi s.d malam. Bahkan malam tanpa karbo. Selama hamil ngiler minum dan makanan yang manis2 tapi ditahan2 mak πŸ˜†. Alhamdulillah dapat berpuasa di bulan Ramadhan 24 hari, sisanya 5 hari karena menjelang persalinan. Saya butuh tenaga ekstra untuk jalan kaki dan naik turun tangga jadi putuskan untuk tidak berpuasa. 
2. Rutin tiap hari minum minyak zaitun, madu, kurma. 
3. Ketika usia 37-38 minggu kepala bayi sudah masuk panggul, rajin pelvic rocking atau duduk mantul2 di atas gymball/birthingball. Kapan pun lah, duduknya di atas bola sambil baca, makan, nonton, jagain anak2😬.
4. Tidak ikut senam hamil atau prenatal yoga dimana pun. Tapi buka youtube dan searching nya dance despacito ala anak2🀦🏼‍♀️hihi
5. Awal hamil s.d minggu 37 kehamilan masih sering bawa motor antar jemput anak2, ke swalayan/pasar, ke tempat tahsin, dll.  Berhenti bawa motor pas tgl 2 Juni 2018 iniπŸ˜†(tau ini ada pengaruhnya gak ya, sugesti aja banyak aktifitas biar lancar lahirannya hehe)
6. Ketika sudah ada pembukaan 1, mulai naik turun tangga, jalan kaki bolak balik aja di rumah, sikat kamar mandi dengan jongkok, mandi sambil jongkok, duduknya ala2 yoga yang dibuka paha dan tempelkan kedua telapak kaki untuk membuka panggul.

Senin, 4 Juni 2018
Senin pagi jam 8 keluar lendir bening cukup banyak dengan sedikit darah. Alhamdulillah tanda2 persalinan muncul satu per satu. Tanda ini masih aman untuk stay di rumah. Biasa disebut mucus plug, lendir penyumbat di dasar panggul.

Sabtu, 9 Juni 2018 
Seminggu kemudian waktunya kontrol kembali karena belum lahir. Pada hari ini saya sungguh deg2an karena kuatir dokter akan menyarankan SC karena belum lahir juga, BB bayi udah lewat 3kg. Siapkan diri untuk pasrah apa kata dokter tapi saya pun siapkan argumen kali aja bisa menunggu 1 minggu lagi. 

Dokter S pun menanyakan perkembangan kontraksi dan seminggu itu dia menunggu2 saya rupanya πŸ˜¬. Setelah di usg alhamdulillah BB si dd 2878 gram, ketuban bagus, kepala bayi sudah tetap di panggul. Dr. S pun menyarankan untuk menunggu lagi. Berhubung HPL tanggal 17 Juni 2018 bertepatan dengan lebaran Idul Fitri maka beliau menjadwalkan kembali kontrol jika belum lahir juga tanggal 19 Juni 2018. Alhamdulillah, ya Allah senang banget rasanya ketika beliau berkata itu. πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈ #berbunga-bunga

Minggu, 10 Juni 2018
Belum ada kontraksi yang rutin, jedanya masih jauh2 dan belum kuat. Dibawa deh jalan2 ke mall biar happy penambah oksitosin.

Senin, 11 Juni 2018
Senin sore, setiap saya duduk dan berdiri ada rembesan air dan sedikit darah. Dipantau setengah jam, masih begitu juga. Kuatir rembesan air ketuban, akhirnya diputuskan untuk whatsapp dr. S dan diminta ke RS untuk di cek. Sekitar jam 21.00 baru ke RS setelah antar kk L ke rumah eyangnya. Ketika di cek dan CTG alhamdulillah bukan ketuban, detak jantung masih bagus, dan sudah pembukaan 2. Diminta untuk pulang dan menunggu di rumah saja, alhamdulillah. ☺☺☺

Selasa, 12 Juni 2018
Usaha untuk menambah pembukaan serviks lebih giat lagi mulai jalan2 bolak balik di rumah, naik turun tangga, "berhubungan" dan stimulus puting di malam hari mengingat bulan ramadhan jadi agak terbatas πŸ˜¬ (saya akui memang paling optimal stimulus kontraksi adalah kedua itu, rahasia sukses penambah pembukaan atau kontraksi. Hahaha). Lagi2 agenda jalan di mall pun dilakukan πŸ˜†. ( kayaknya itu hal yang wajib buat bumil ya🀣)

Rabu, 13 Juni 2018
Kakak RL sudah dititip di rumah eyangnya dari hari Minggu, di rumah hanya ada saya dan suami. Seperti biasa sehabis subuh ikhtiar dan doa makin dikencengin  . Jam 9 pagi kedatangan teman, ummi D dan ngobrol asik ketawa/i bahas biar cepet lahiran. Kebetulan ia adalah teman SMA dr. S dan yang merekomendasikan kontrol ke beliau. Setiap ada teman yang bertanya saya selalu jawab mudah2 malam lahiran ya, mohon doanya. πŸ˜¬ 

Jam 13.00
Setelah shalat dzuhur berniat untuk tidur siang katena merasa lelah dan simpan tenaga siapa tahu malamnya lahiran😬. Tidak lama tiduran, berasa ada cairan yang keluar dari vagina begitu aja. Saya berdiri dan air pun mengalir, feeling ini air ketuban karena gak bisa ditahan. Coba kalem sampai tunggu suami pulang dari musholah bayar zakat. 

Sebelum ke RS mandi dulu biar segar. Alhamdulillah suami udah libur lebaran dan jalanan pun lancar menuju RS. Begitu sampai di RS prosedur bumil langsung ke ruang bersalin bukan IGD. Disana disambut bidan/perawat dan saya pun segera ditangani. Beberapa menit kemudian terdengar suara dr. S dari ruang VK. Bidan pun memanggil dr. S "dok, ada pasien dokter nih yang 2xbsc, mau vbac". Saya memang gak whatsapp beliau ketika mau RS☺️, mikirnya langsung saja deh hihi. Dokter S melakukan VT atau cek dalam hasilnya pembukaan 3 tipis dan benar air ketuban sudah rembes/pecah. Dikasih waktu 24 jam dari jam 13.00 siang tadi bayi harus sudah lahir. Air ketuban salah satu induksi alami jadi kalau tidak "macet" harusnya pembukaan bertambah dan kepala bayi makin turun untuk lahir. Karena ketuban sudah rembes saran beliau tiduran miring kiri aja supaya gak mengalir terus. Salah satu cara menambah pembukaan serviks juga. 

Untuk pengganti air ketuban disarankan minum air putih yang banyak dan dipasang infus air gula untuk penambah tenaga juga. Sudah bayangi akan ribet ketika lahiran ada jarum infus di tangan. Tapi harus dipasang dengan alasan tersebut. Oke baiklah, insyaAllah yang terbaik. Selama proses ini itu, saya diwawancarai oleh bidan untuk administrasi sedangkan suami urus ini itu di lantai bawah. Para bidan yang support membuat saya nyaman. Ada satu nasihat bidan disana yang membuat saya terngiang2 ketika klimaks sakit memuncak nanti (opsss... ceritanya belum sampai sini hihi). Jika sudah niat vbac, jangan minta SC ditengah jalan ya bu, semangat dan nikmati saja. Saat itu saya pun menjawab tanpa ragu, insyaAllah siap bu. πŸ˜† tanpa bayangkan rasa sakitnya kayak apa hahaha, karena memang gak punya pengalaman. Enam jam kemudian akan dilakukan VT kembali yaitu sekitar jam 21.00 jika tidak ada kemajuan akan diobservasi lagi oleh dr. S. 

Baju pun sudah berganti, kontraksi makin sering dan masih bisa ditahan sambil doa dan dzikir terus. Seraya berkata dalam hati, hayoook kontraksi datang semakin hebat donk, ayook dek desak terus serviks bunda, bunda mau segera ketemu dd. Di ruang VK saya hanya ditemani oleh suami. Keluarga pun belum ada yang dihubungi bahwa saya sudah masuk ruang bersalin, ini atas permintaan saya karena kebayang kalau ada ortu kuatir mereka gak tega lihat saya kesakitan. 

Jam 21.00
Bidan pun melakukan VT dan hasilnya pembukaan 4 tipis. Kabar baik! Katanya jika cepat jam 12 malam pun pembukaan lengkap. Semangat ya bu! Kata2 itu selalu diucapkan oleh para bidan dan perawat yang cek saya.  
Semakin malam kontraksi semakin kuat dan saya merasa jika tidur miring kiri rasa sakitnya semakin kuat. Akhirnya saya pun duduk dan seolah2 pelvic rocking, sayang banget gak ada fasilitas gymball di sana. Boleh bawa, tapi saya pun tidak bawa hahhaa. Gymball ini memang ampuh banget pereda sakit kontraksi yang datang. 

Kamis, 14 Juni 2018
Jarum jam dinding rasanya jalan begitu lambat. Sekitar jam 00.00 dini hari kontraksi semakin hebat dan saya mulai gak nyaman di atas kasur bersalin yang keras. Saya merasa bebas bergerak ketika kontraksi datang dengan duduk di bawah lantai sambil pegangan tangan suami/ meluk. Sesekali menendang benda2 sekitar. Dan rasanya kok semakin sakit semakin sakit. Mulai gak terkontrol dengan gelesoran di lantai ruang VK, gak mikir lagi tentang kebersihannya, yang penting saya nyaman ketika kontraksi hebat datang. Subhanallah dan benar nikmat sakit banget sampai mikir ya Allah apa dosa saya banyak banget hingga Engkau berikan rasa sakit yang luar biasa ini.

Jam 02.00 
Rasa sakit semakin hebat, ini rasa sakit yang belum pernah ada sebelumnya. Sakit sangat sakit. Ada kata2 lebih dari sangat gak? Klo ada pakai kata itu. Saking sakitnya hingga akhirnya minta bidan untuk cek VT lagi. Dan ternyata benar sudah pembukaan 7-8. Allahu Akbar sakit banget pantesan, di fase ini saya sudah hampir kehilangan kendali menahan sakit dan sempat terpikir untuk menyerah SC saja πŸ˜­ tapi inget nasihat bidan di awal tadi. Jangan minta SC tengah jalan ya bu. Hikssshikss. Lagi pula sudah pembukaan 7-8, jadi semangati diri sendiri, jadi ingat katanya minta mana lagi kontraksinya dek, ini udah datang hebat kok mau nyerah. Hikss πŸ˜­ . 

Entah sudah jam berapa. Saya sudah gak lihat jam dinding lagi, fokus kesakitan dan selalu berharap ya Allah jeda istirahat kontraksinya lamaain donk. Sampai mikir begitu saking sakitnya, tapi malah semakin dekat semakin dekat jedanya. Selama kontraksi datang saya harus pegang tangan suami, dia gak boleh kemana2 bahkan ia mau pipis pun saya tidak ijinkan. Maaf ya ayah. Tapi memang saya menjadi lebih nyaman ketika memegangnya, walaupun pegangan erat seerat2nya sampai ia pun merasa sakit sepertinya. 

Mungkin sekitar jam 03.00 lebih
Para bidan terlihat wira wiri sibuk menyiapkan alat2 persalinan dan posisi saya yang tadinya glesoran di bawah diminta untuk naik ke atas kasur untuk cek pembukaan. Alhamdulillah sudah pembukaan 9 dan kontraksinya semakin hebat serta ada sensasi mau ngeden. "Ibu, sebentar lagi ya pembukaan lengkap dan kalau mau ngeden ditahan dulu ya, tarik nafas....tiup" bidan said. Berulang kali para bidan berkata seperti itu tapi sensasi ngeden itu gak bisa saya kendalikan. Pada fase ini, saya sering berteriak memanggil bidan dan bilang mau ngeden, gak tahan. Sungguh ini hal yang sangat tidak enak, ketika ingin ngeden tapi diminta untuk menahannya. Pada fase ini pun, saya sudah menarik2 baju suami gak karuan, entah menendang apa yang ada di daerah kaki, merasa kehausan karena seringnya merintih sehingga suami siap air putih. Di awal2 kontraksi pembukaan 1 s.d. 7 saya sebisa mungkin tidak teriak2 untuk menyimpan tenaga tapi di fase ini sulit kendalikan suara🀦🏼‍♀️🀦🏼‍♀️🀦🏼‍♀️. 

Riwayat persalinan SC 2x sebelumnya sehingga proses vb2ac ini dilakukan beberapa tindakan preventifnya walaupun kontraksi datang, seperti:
- para bidan selalu cek apakah bekas SC saya sakit?
- cek jahitan bekas SC dengan mengeluarkan air pipis pakai alat sambil ditekan2 jahitan bekas SC
- prepare cek darah dan injeksi pendarahan sewaktu2 harus tindakan 

Entah mungkin sekitar jam 04.00 pagi
Terdengar dr. S dan 4 bidan sudah siap dengan apron, sarung tangan dan sepatu boothnya mengambil posisi masing-masing. Dua bidan masing2 di kaki kiri dan kanan memberitahu saya cara pegang kaki. Pada fase terakhir ini saya merasa sudah kelelahan dan entah mengapa kontraksi hebat yang ingin ngeden itu berangsur hilang. Sehingga dokter pun meminta bidan untuk stimulus puting, ketika mulas datang diminta untuk tarik nafas panjang-ngeden tanpa suara-pandangan fokus ke perut. Jujur bagi saya ini rangkaian tersulit proses melahirkan karena saya sudah gak fokus. Berkali2 dokter, bidan, bahkan suami minta saya untuk ngeden. Bahkan suami suapin kurma saja saya buang. Terasa dr. S menggunting sesuatu di bawah dan saya diminta ngeden lagi. Alhamdulillah jam 04.15 baby K lahir. Saya merasa pada fase ngeden ini mendapat pertolongan/kemudahan dari Allah SWT karena di fase ini tenaga saya habis dan tidak bisa ngeden maksimal πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­. Entah beberapa kali ngeden hingga baby K terlahir, entah bagaimana usaha extra dokter, para bidan membantu persalinan saya ini, entah berapa banyak support suami kala itu. 

Ya Allah, apalah saya tanpa-Mu pada proses persalinan ini.
Ya Allah, apalah saya tanpa mereka (dokter & bidan) yang membantu proses persalinan ini.
Ya Allah, apalah saya tanpa suami yang selalu support pada proses persalinan ini.
Ya Allah, apalah saya tanpa doa2 keluarga, kerabat, teman di luar sana. 
😭

Rasa syukur, lega bisa melewati proses ini seolah-olah obat bius buat saya karena saya lemah tak berdaya, tubuh seperti tak bertulang, mata aduhai ngantuknya. Sisa-sisa persalinan penarikan tali pusat, proses keluari plasenta yang dirasakan begitu saja. Sampai baby K taruh di atas dada, saya pun masih diem tak berdaya. Hingga bidan berkata " bu, anaknya sudah lahir, hayoo dipeluk" seraya mengambil tangan saya agar memegang baby K dan suami pun terdengar mengadzankan baby K. Setelah itu saya pun sudah tak tahu kemana perginya suami, sepertinya ia menunaikan sahur seadanya di kamar bersalin. Semoga Allah merahmati mu ya ayah. Aamiin. 

Rasa sakit belum berakhir, dr. S pun melakukan jahitan robekan di bagian bawah. Jahitan yang banyak sehingga saya harus menahan rasa sakit/nyeri lagi. Kalau kata dr. S ini robekan standar anak 1. πŸ˜† iya, anak ketiga rasa anak pertama πŸ˜¬. Setelah proses jahit robekan selesai terasa sensasi cairan dingin disiram ke bagian bawah. Baby K pun diambil oleh bidan, kemudian tubuh saya dibersihkan dan digantikan baju. Saya pun diminta istirahat walaupun tubuh terasa pegal semua dan nafas berat. Alhamdulillah semua proses selesai ya Allah. Alhamdulillah, LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang dzolim). 

Subhanallah setelah merasakan perjuangan melahirkan normal, saya begitu salut dengan ibu-ibu hebat yang melahirkan anak2nya dengan persalinan normal. Proses persalinan normal saya yang begitu panjang dari pembukaan 1 hingga melahirkan sekitar 2 minggu, dari pembukaan 3 hingga melahirkan sekitar 15 jam, klimaks kontraksi sekitar 4 jam. Subhanallah luar biasa sakitnya, pantas saja ada yang bilang sakitnya 50-100x lipat kontraksi pembukaan awal. Karena memang luar biasa hingga ada pikiran ya Allah begini kah sakitnya dicabut nyawa πŸ˜­

Awal kehamilan ketiga ini saya tidak begitu ngoyo untuk vb2ac namun saya tetap ikhtiar mencari dokter yang pro. Belajar dari kegagalan anak kedua, sehingga bisa dibilang kesiapan saya terhadap vb2ac kurang. Saya tidak muluk2 membayangkan sakitnya kontraksi melahirkan sehingga ketika merasakan sendiri seperti tersambar petir.... jeggggggggerrrrr sakitnya😭 hingga hampir menyerah. Ilmu2 mengurangi rasa sakit, mengendalikan emosi, cara mengeden, cara ambil nafas dsb pun dirasa sangat minim karena hanya sisa2 belajar di kehamilan kedua dahulu. Buku yang saya baca di kehamilan ketiga ini hanya buku "persalinan maryam". Persalinan maryam lah yang saya coba ingat2 ketika kontraksi hebat terjadi, beliau wanita pilihan Allah yang melahirkan sendirian tanpa adanya seorang suami, bayangkan perjuangannya walaupun Allah dan malaikat Jibril bersamanya. Saya pun berusaha menyebut nama Allah ketika sakit datang untuk meminta pertolongan dan ampunan. πŸ˜­

Vbac atau vb2ac adalah mungkin atas ijin Allah. Tanamkan di dalam diri: 
- niat
- tekad bulat
- kesiapan fisik dan mental menghadapi rasa sakit yang dahulu belum pernah dirasakan pada kehamilan sebelumnya  (poin penting bagi saya bahwa harus siap tahan sakit, jangan minta SC tengah jalan) 
- support suami atau keluarga
- pemberdayaan diri dengan ikut prenatal yoga/senam/ pelatihan2 dll
- dalam masa menunggu datangnya tanda2 melahirkan tidak boleh stress, bawa santai dan rileks jika sudah waktunya akan datang semua itu
- bila perlu memakai doula/pendamping kelahiran selain suami.


Harapan saya semoga ibu2 hebat yang ingin vbac/vb2ac lebih diberikan kemudahan persalinan dari Allah dibandingkan proses saya yang bisa dibilang "itu malam terpanjang dalam hidup saya" hihi. Karena setiap tubuh di design berbeda2 oleh Allah. Mungkin cerita vbac/vb2ac saya dirasa sungguh dramatis, tapi mudah2an kalian yang mau vbac/vb2ac dilancarkan dan tidak sampai memakan waktu yang sangat lama. Percayalah bahwa Allah menitipkan janin di rahimmu dan Allah pula yang akan mengeluarkan pada waktunya. Hanya Allah yang tahu kapan ia dilahirkan. 


Semoga kisah vb2ac saya bermanfaat buat ibu2 hebat yang berniat dan bersemangat lahiran normal setelah sebelumnya SC. Yakin pada Allah dan diri anda. 

Salam hangat, 
Ibu dari Khayyara Maryam Quinnytri (putrinya T&R yang berakhlak solehah, taat pada Allah seperti Maryam. Aamiin)
Lahir: Kamis, 14 Juni 2018 (h-1 lebaran😬)
Pukul : 04.15 wib
BB : 3460 gram
TB : 51 cm
Di RS 

Beberapa menit setelah baby K lahir

pasang infus


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh




Selasa, 12 September 2017

Resign kok cita-cita?

Rabu pagi yang cerah dengan angin semilir, 13 September 2017
di pojokan ruangan sambil lesehan depan laptop
ditemani segelas air putih yang sudah terkontaminasi vitamin c hehe.....

Pagi ini tidak begitu hectic karena RL masih diliburkan sekolahnya. Kakak R masih dalam recovery dari khitan sedangkan adek L masih diliburkan karena tidak ada yang antar jemput sedangkan saya harus menemani kk R. Hikmahnya bisa menulis ini di pagi hari, memang enak kalau menulis di pagi hari karena masih fresh, kerjaan rumah sudah beres, RL kasih HP saya dulu tapi syaratnya hanya boleh lihat galery hp (no game and no youtube) itu lah mengapa memory hp selalu full. 

Menulis di blog adalah hoby lama saya, cukup lama banget vakum tidak menulis karena alasan kesibukan (halahh...hahhaa). Suami selalu support untuk saya kembali menulis hal yang siapa tahu bermanfaat bagi orang lain, entah bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan liburan atau mencari pengalaman orang lain terhadap sesuatu sebagai gambaran awal. Saya sendiri pun jika ingin travelling ke suatu tempat yang baru, atau mau mengurus/melakukan hal publik lainnya, langsung googling dan lebih suka membaca pengalaman orang lain dari blog dan sejenisnya.

Head Topic : RESIGN. Yes.....Alhamdulillah akhirnya cita-cita saya untuk resign dari PNS terkabulkan. What???? resign dari PNS kok cita-cita. hehehe... Setelah menikah dan mempunyai anak orientasi saya bekerja sudah berubah. Alhamdulillah diberikan kesadaran oleh Allah SWT, bahwa setelah menikah dan punya anak, tugas utama saya adalah sebagai istri dan ibu. Lantas bagiamana tugas saya di kantor? mau tidak mau itu saya kesampingkan, bukan lagi yang utama. Bayangkan jika anak sakit atau suami sakit, apakah kita tega meninggalkan dengan pergi bekerja. Tentu tidak tega bukan. Itulah salah satu contohnya hehe... 

Cita-cita resign dari kerjaan sudah ada sejak saya melahirkan anak pertama. Antusias yang sangat luar biasa ketika mempunyai anak untuk mengurus semua-semuanya sendiri sepertinya mengalahkan rasa untuk naik pesawat terbang nomor 1 di Indonesia, pergi dari satu tempat ke tempat baru di wilayah Indonesia. Namun, persentase cita-cita resign itu baru sekedar di angkat 50%, artinya masih setengah hati. Mengingat pengasuhan kakak R bisa dihandle semua oleh orang tua (Ibu). Semua berjalan dengan baik, rasa bersalah menitipkan anak pada orang tua pasti ada tapi masih yang anggap ah...biasa aja...toh Ibu gak keberatan....toh cuma baru 1 anak ini....toh biar rame juga di rumah...bla..blaa..blaaa sebagainya yang hanya toleransi kebablasan. Seiiring waktu kk R tumbuh besar, pintar segala macamnya, pintar membaca huruf hijaiyah di usianya 2 tahun. Tentu itu bukan peran dari bundanya tapi peran 100% eyang R yang mengajari semuanya. Kemudian saya dapat apa kebaikannya terhadap R? nanti ketika diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT adalah ayah bundanya, bukan eyangnya lho. Kalau anak salah "jalan" akibat kurangnya kasih sayang dan didikan akhlak dari orang tuanya, apa tidak menyesal? Bukan berarti saya bekerja kemudian tidak sayang pada anak, tentu dalam kondisi seperti apapun orang tua pasti sayang pada anaknya, namun yang membedakan adalah kadarnya. Tentu berbeda kasih sayang saya ketika bekerja dan fulltime mom jika dihitung dalam ukuran waktu (jam). Terlebih kalau sudah pulang kerja rasa capek dan inginnya segera istirahat, sedangkan anak yang ON pengen main dengan bundanya. Dilema. Banyaklah dilema-dilema lainnya, belum lagi ditinggal dinas berhari-hari dan episode-episode lainnya yang bikin saya mewek dan ingin fulltime mom supaya gak merepotkan orang tua, supaya mandiri, supaya menemani selalu anak-anak, melihat tumbuh kembangnya, tidak izin terus ke kantor, dan masih banyak lagi....:). Hingga akhirnya kakak R punya adik, hingga kemudian mereka masuk tahap sekolah. Wow udah gede aja ya, tanpa terasa. Ya iya lah pulang kerja malam, tidur, pagi ketemu sebentar. Begitu aja terus tiap hari. Seperti saudara jauh yang dulu bayi, sekalinya ketemu udah baligh. hahaha....


Sepertinya 2017 ini sudah ambang batas tolerasi maju mundur cantik untuk resign, memang ya yang namanya kebaikan itu harus dipaksakan. Lho...resign kok kebaikan? ya kebaikan untuk saya dan keluarga saya tentunya, anak-anak lebih membutuhkan saya. Sedangkan tugas kantor bisa dihandle tanpa kehadiran saya sekalipun. Jangankan anak-anak, tugas saya terhadap suami pun mesti ada yang diabaikan seperti memasak makanan untuknya, menyiapkan pakaian dsb. Ketika pagi datang, saya dan suami sudah sibuk masing-masing untuk menyiapkan diri kita masing-masing ke kantor. Belum urusan domestik anak-anak. Sepertinya memang akan lebih banyak kebaikan jika saya resign dan fokus pada tugas sebagai ibu rumah tangga. Lantas berkurang donk penghasilan keluarga? tentu, itu pasti tapi alhamdulillah kami yakin bahwa pemberi rezeki itu adalah Allah Azza wa Jalla. Dia lah tempat meminta segalanya. Apalagi saya resign tentu dengan tuntunan kebaikan, bukan karena hal yang dilarang oleh Allah SWT. Satu tahun sebelumnya saya dan suami sudah mulai sounding kepada orang tua bahwa saya akan resign. Pemberitahuan ini sebagai bentuk penghormatan kami pada mereka. Tapi sayang respon mereka saat itu tidak positif. Bisa dikatakan mereka menentang atau melarang. Oke...kayaknya ini bukan waktu yang pas. Saya dan suami pun tetap doa agar dimudahkan jalan menuju resign ini jika ini hal yang terbaik menurut Allah SWT. Setahun berjalan Allah memberikan kami rezeki yang begitu luas sepertinya memang ini cara Allah menunjukan jalan buat saya resign. Allah memberikan kami rezeki memiliki rumah di dekat sekolah Razka, adik L diterima sekolah di tempat yang sama dengan kakak R, Allah memberikan kesempatan kami melakukan perjalanan Umroh, Eyang R sudah mempunyai cucu lagi dari adik ipar, dan nikmat-nikmat lainnya yang diberikan Allah SWT. Sudah tidak ada pilihan lagi jika saya memaksakan tetap bekerja, oia saya dan suami menganut paham anak tidak boleh diasuh oleh ART ya... (gak boleh protes...hehe...itu paham kami dan alhamdulillah ternyata paham kami masih sesuai koridor diperbolehkan oleh agama). Cukup Eyang mereka sebagai pengasuh saat itu. Tepat bulan Agustus 2017 kami pindah rumah dan adik L mulai masuk sekolah. Pada bulan itulah saya memantabkan diri resign. 

Pertengahan bulan Juli 2017 saya mengutarakan niat itu kepada atasan langsung dan kemudian menyerahkan surat resign kepada pimpinan Sekretariat Jenderal di salah satu  K/L saya bekerja. Di dalam surat itu saya mengajukan pengunduran diri sebagai PNS terhitung mulai bulan Agustus 2017. Sisa waktu 2 minggu saya pergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Sebelum dapat persetujuan resign dari kantor, bagian Kepegawaian meminta saya datang ke kantor untuk berdiskusi terkait keinginan saya itu. Mulai per Agustus 2017 saya sudah tidak masuk kantor sesuai komitmen daya di surat resign, sehingga panggilan kantor untuk memdapatkan keterangan langsung dari saya tidak bisa saya penuhi karena saya harus handle antar jemput anak-anak yang jamnya tidak pas. Saya pun memberikan keterangan tertulis terkait keseriusan resign. Alhamdulillah karena tidak ada ikatan dinas sehingga resign-nya saya dari PNS tidak harus membayar denda atau apalah semacamnya. Seminggu kemudian saya dikabari kalau SK Pengunduran Diri saya sudah keluar. Alhamdulillah sudah resmi resign dan berjalan lancar tanpa hambatan, tanpa protes dari orang tua lagi. Resign dari PNS murni keinginan dari saya pribadi. Suami tidak pernah memaksa saya keluar dari kerjaan, suami tidak pernah melarang saya bekerja. Alhamdulillah support utama yang terpenting jika ingin resign adalah suami. Jangan coba-coba resign tanpa dukungan seorang suami yang soleh. hehehe.

Diawali dan diakhiri dengan SK :)
Sebelum fix memutuskan resign, saya sering banget membaca tulisan-tulisan ibu-ibu luar biasa tentang pengalaman dia resign dari pns atau kerjaan yang bonafide. Tentu sebenarnya hal yang menghalangi kita para ibu resign adalah karena gaji atau penghasilan. Setelah resign pasti gak punya sebanyak uang sendiri hasil kerja, gak bisa beli ini dan itu, minta-minta deh ama suami. Paling itu kan? hehehe. Kekhawatiran itu ada juga di dalam diri saya, tapi kemudian luruskan niat karena Allah, perbaiki ilmu langit. InshaAllah Allah kuatkan niat itu sehingga resign pun jadi hal yang biasa. Dan benar lho....saya resign itu biasa aja perasaaannya, gak berat, gak sedih, gak takut kehilangan uang atau teman2 kantor, gak takut hilangnya kesempatan keliling Indonesia. Mungkin kalau semua sudah kita serahkan pada Allah, Allah akan jadikan perasaan2 itu hilang dan malah diganti lho. Percaya atau tidak?
1. Uang sendiri gak ada? bener memang udah tidak punya uang sendiri, yang ada uang suami. Jadi segala sesuatunya harus izin ke suami (di luar kebutuhan harian ya), bahkan dalam agama pun seorang istri harus bilang ke suami jika mau sedekah karena itu uang suami. Lain hal jika uang hasil sendiri, sedekah tanpa izin suami diperbolehkan. Dengan izin ke suami tentu ia merasa dihormati oleh istri, tentu ia tidak mungkin melarang pada hal yang diajarkan dalam agama, tentu ia merasa bahwa nafkahnya dipakai dalam jalam yang baik dan benar. Apa gak makin semangat tuh suami mencari nafkah? hehe.....
2. Gak bisa beli ini dan itu? benar juga memang sudah gak sebebasnya membeli barang-barang yang dasarnya bukan karena kebutuhan tapi hanya keinginan dan berakhir mubazier. Sering banget begitu, dulu kerja sepatu, tas, baju ditumpukin menuhi lemari sedangkan yang lama saja jarang dipakai eh ini model baru beli, trend baru beli. Type yang trendsetter banget ini. Parahkan mubaziernya. Ampuni aku ya Allah. Tapi sekarang mikir kalau mau beli-beli karena hasrat nafsu belanja aja. Sekarang kalau mau tas baru, cukup naik ke lantai atas, buka mesin jahit, ambil koleksi kain, jahit deh. Atau duduk sambil mengawasi anak-anak sambil merajut tas cantik Sewpassions. 100% handmade dan penuh passion kalau udah passion pasti ngerjainnya juga dengan sepenuh hati dan happiness. hahahaa....bisa di cek di Instagram atau fanpage @sewpassions ya hehehe (Sekalian promosi).
3. Kehilangan teman-teman kantor? alhamdulillah sosmed bebas di dunia ini, yang jauh jadi dekat dengan komunikasi sosmed. Saya pun masih sering komunikasi dengan soulmate di ruangan, Mba Rani, dari dia saya banyak belajar tentang cita-cita. Dia pun ibu beranak dua yang masih unyu-unyu, passion dia adalah mengajar hingga dia kini melanjutkan S3 nya di Unpad untuk menjalani apa yang menjadi passionnya. Dia belajar lagi untuk ilmu hukumnya di Unpad sedangkan saya belajar lagi untuk ilmu pendidikan (pendidikan sabar, managemen waktu, menerapakan aturan2 pada anak-anak, dsb) di rumah. Sukses buat mba Rani dan keluarganya (Mba Rani baca gak ya? hehe). Bukan sampai disitu saja, ternyata Allah gantikan teman-teman di kantor dengan teman-teman yang solehah. MasyaAllah, ibu-ibu teman sekolah kakak R yang semuanya solehah, saling membantu dalam kebaikan, kami sama-sama melangkahkan kaki ke majelis ilmu. Ya Allah itu yang saya gak dapat sewaktu kerja dulu, charge iman. Seumur hidup mungkin bisa dihitung dengan jari untuk datang ke majelis ilmu. Justru ilmu agama lah yang utama dalam menjalani kehidupan di dunia ini, eh ya kok malah dikesampingkan jadinya semuanya aja menjalani kehidupan asal udah bener , yup bener menurut manusia bukan Allah SWT dan hadist Rasulullah SAW, padahal ada adab-adab nya, adab suami istri, anak, hablumninnallah dan hablumminnash. Kalau kerja kan bisa sabtu dan minggu? yap bener bisa, dulu sempat kami lakukan dan itu kami belum bisa istiqomah karena godaan ke mall, tempat rekreasi lainnya lebih dahsyat daripada harus datang ke majelis ilmu. Namun kini, antar anak sekolah beres, melangkah ringan deh ke majelis ilmu. Alhamdulillah Allah mudahkan.
4. Gak bisa naik pesawat terbang lagi lho dengan gratis? Apapun yang kita dapatkan sebenarnya gratis lho dari Allah, kita cuma tinggal doa dan ikhtiar, lagi-lagi yang terpenting luruskan niat karena Allah maka Allah mudahkan. Dan benar saja, suami selalu ikhtiar dan doa untuk usahanya sebagai marketing property syariah, maka Allah berikan kami kesempatan ke Singapore gratis. Jadi dimana pun kita berada asalkan ikhtiar dan doanya karena Allah, inshaAllah akan Allah mudahkan dan berikan. Itu yang saya yakini, jadi tak perlu takut kehilangan nikmat-nikmat dulu sewaktu kerja. Lihat wajah lucu RL tiap hari aja udah nikmat, nikmat luar biasa. hehehe
5. Gak bangga lagi donk jawabnya kalau ditanya kerja dimana? hehe...dahulu pun saya kalau isi biodata atau data apapun tentang pekerjaan, hati kecil selalu bilang ibu RT bukan PNS. Alhamdulillah emang hati ini udah Allah mudahkan untuk resign. hehe. Resign macam ini pun ada syarat dan ketentuan berlakunya ya. Syarat dan ketentuannya mudah dan cuma sedikit kok yaitu support Suami dan luruskan niat karena Allah. Udah itu doank. Seminggu yang lalu saya bikin SIM dan ditanya pekerjaannya apa? alhamdulillah jawabnya udah gak ragu-ragu lagi, ibu rumah tangga. Kalau dulu sebagai PNS, tapi kok kalau jawab maunya ibu RT nah klo jawab ibu RT kok ya bohong, dosa. hehe. Jadilah sebut PNS. Bukannya bangga sebut PNS? alhamdulillah saya kok biasa aja ya. Duh mang kayaknya Allah kasih skenario hati begini. hehe.

Kayaknya sudah kepanjangan menulis ini, keasikan dengan laptop, anteng. Sudah gitu anak2 juga anteng main dengan alat tulisnya. Saya yang berasa lapar, ternyata sudah jam setengah 12 siang. Pantes. hehe....Oia sebelum penutupan, sudah hampir 1,5 bulan saya resign perasaan saya masih sama yaitu tenang, calm, santai, plonk, bebas kayak habis melepaskan beban berat. hehehe. Lho kok ke perasaan ini? maksudnya ingin menulis bahwa saya baru keingetan untuk mengurus Taspen dan Bapertarum selama 11 tahun jadi PNS. Sudah mulai cari-cari informasi prosedur pengurusannya dan saya pun sudah meminta kantor untuk dibuatkan Surat Keterangan Penghentian Pembayaran Gaji dan Slip Gaji Terakhir kemarin, baru banget minta jadi belum ke tahap selanjutnya. InshaAllah nanti akan saya share pengalaman mengurus Taspen dan Bapertarum Pengunduran Diri. Sekali lagi saya salute dengan ibu-ibu bekerja yang memutuskan resign demi mengurus anak-anak. Karena menjadi ibu RT itu gak semudah yang dibayangkan lho, yang katanya bisa enak-enakan tidur, leha2 kapan aja. no..no....no.. kalau pun iya itu bonus ya mengistirahatkan tubuh (kondisi saya saat ini tidak dibantu ART ya, alhamdulillah masih bisa handle sendiri) setelah disibukan dengan anak-anak . Yang penting asal niat kita benar-benar diluruskan agar inshaAllah tidak ada penyesalan kemudian, yakin lah pada Allah, Allah, Allah dan Allah terus.


----Rd----


Minggu, 29 Januari 2017

Perjalanan Ibadah Umroh 2017

Alhamdulillah diawal tahun 2017, Allah SWT memberikan kesempatan buat saya dan suami untuk melaksanakan ibadah Umroh. Minggu, 8 Januari 2017 pukul 08.00 pagi kami berangkat menuju kota Makkah Al Mukaromah. Penerbangan dari Jakarta ke Jeddah, Bandara King Abdul Aziz selama 10 Jam. Maskapai yang digunakan adalah Lion Air dan tidak ada transit. Alhamdulillah perjalanan pun lancar. 

Perjalanan pertama langsung menuju Kota Makkah, jadi kami langsung mengganti kain Ihram buat laki-laki dan berniat Ihram ketika pesawat sudah memasuki daerah Miqot, Yalamlam. Sehingga saya ketika meninggalkan rumah sudah dalam keadaan mandi Ihram, shalat sunah safar 2 rakaat, memakai pakai gamis, jilbab, kaos kaki sebagai pakaian Ihram. Untuk wanita, pakaian ihram yang penting menutup semua aurat kecuali kedua telapak tangan dan muka. Crew cabin Lion Air pun memberitahukan kepada kami semua jamaah Umroh bahwa 1 jam lagi akan memasuki daerah miqot, sehingga yang akan langsung melaksanakan ibadah Umroh untuk berrganti kain ihram dan berniat umroh, dengan begitu semua larangan-larangan ihram sudah berlaku. MasyaAllah hati semakin deg-degan, rasanya ingin sekali segera sampai ke tanah haram, Makkah Al Mukaromah dan Ka'bah, kiblat umat muslim di muka bumi, kiblat yang selama ini saya menghadap dalam beribadah. Alhamdulillah ya Allah. Dan tak lupa setelah sudah berihram, perbanyaklah doa dan membaca talbiyah.


Sekitar jam 16.30 waktu Jeddah kami tiba. Alhamdulillah maskapai yang kami pakai parkir di terminal Haji. Jadi suasana sepi dan proses imigrasi maupun bagasi lancar dan cepat, tidak ada hambatan. Konon katanya, jika tibanya di terminal International prosesnya akan lebih lama, karena loket imigrasi sedikit dan campur dengan penumpang maskapai lain. Kami pun langsung menuju kota Makkah perjalanan sekitar 2 jam. Berhubungan matahari sudah tenggelam, maka saya tidak bisa melihat pemandangan kota Jeddah-Makkah. InshaaAllah esok pagi pasti terlihat indah kota suci ini, kota pilihan Allah SWT dalam menurunkan agama Islam, menurunkan Al-Quran, memilih baginda Rasulullah SAW beserta keluarg dan sahabatnya. Rasa syukur memenuhi dada. Terima kasih ya Allah.

Sekitar jam 9 malam, kami sampai di hotel Olayan Makkah. Jarak hotel ke Masjidil Haram sekitar 5-10 menit jalan kaki. Kesan pertama di kota suci ini adalah adem, damai, ramai orang-orang untuk beribadah dari seluruh penjuru dunia, dingin angin. Ya Allah saya bahagia banget bisa ada disini #terharutiadahenti.
Setelah menaruh koper dan istirahat sebentar 30 menit, kami pun bersiap untuk melaksanakan Umroh Wajib didampingi oleh muthawif. Jantung pun semakin berdetak kencang, seperti ini melihat pujaan hati. MasyaaAllah. Begitu indah dan megahnya Masjidil Haram dari luar. Kagum. MasyaaAllah, ini baru lihat luarnya saja.  Di dalam sana ada Ka'bah yang saya impikan. Sebelum masuk pun kami dipandu untuk membaca doa masuk Masjidil Haram. Sudah di dalam Masjidil Haram, kami pun melaksanakan shalat Jamak Qashar Magrib dan Isya terlebih dahulu, baru kemudian melaksanaakan rukun umroh kedua, yaitu Tawaf sebanyak 7 kali. 

Subhanallah Walhamdulillah Walailahaaillahu Waaallahuakbar. Kami pun membaca doa melihat Ka'bah. Ya Allah, Ka'bah adalah salah satu kebesaran Mu yang sungguh tampak di depan mata. Begitu agung dan kokohnya berdiri. Ini adalah kiblat yang Engkau tetapkan untuk kami umat Islam beribadah. Air mata pun kerapkali menetes, kagum akan kebesaran Mu dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa saya. T_T....hiksssshikssss...

Rukun umroh kedua pun kami lanya itu Tawaf, mengelilingi Ka'bah. Ka'bah dibangun oleh nabi Ibrahim As atas perintah Allah SWT. Dimulai dari lurusan Hajar Aswad dengan lampun hijau tiang Masjidil Haram di seberang Hajar Aswad. Tak lupa kami pun mengikuti sunah nabi Muhammad SAW dengan mengangkat tangan kanan mengarah ke Hajar Aswad dan menciumnya. Doa dan talbiyah kami ucapkan, sunah-sunah Rasulullah SAW pun kami lakukan untuk mendapatkan ridho Mu ya Allah. Sesampai di Rukun Yamani pun kami mengangkat tangan kanan, tanpa menciumnya dan membaca doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Tak lupa untuk berdoa di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah karena disanalah tempat mustajab Allah mengabulkan doa hamba Nya, yaitu Multazam. Perasaan saya saat itu begitu nikmat ya Allah, tak pernah sebelumnya merasakan perasaan yang begitu syahdu beribadah pada Mu. Sesudah melakukan Tawaf, kami pun mencari tempat di belakang Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat sunah tawaf 2 rakaat, jika tepat di belakang Maqam Ibrahim penuh/ramai, maka tidak masalah agak minggir. Selesai melaksanakan shalat sunah, kamii pun disunahkan untuk meminum air Zamzam dan membaca doa. Alhamdulillah hampir setiap sudut dii Masjidil Haram tersedia galon2 besar dan banyak berisi air zamzam. Air Zamzam adalah air yang Allah janjikan tidak akan pernah habis hingga akhir dunia. MasyaAllah, Allahu Akbar. 

Sai, rukun ketiga umroh. Setelah meminum air Zamzam, kami pun berjalan menuju bukit Safa untuk melakukan Sai sebanyak 7 kali. Sai pun diperintahkan Allah SWT untuk meneladani perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya, nabi Ismail. Beliau bolak balik dari bukit Safa ke Marwah sebanyak 7 kali hingga akhirnya Allah SWT menurunkan mukzijat dengan memancurkan sumber mata air di bukit Marwah yang disebut air zamzam. Saat itu Siti Hajar begitu tulus dan ikhlas berdoa kepada Allah SWT untuk memberikan air sebagai pelepas dahaga ia dan anaknya, nabi Ismail. Ya Allah kebayang betapa beratnya Siti Hajar saat itu, bukit dalam keadaan yang panas, pasir, berbukit, kerikil, tandus. Betapa lelahnya perjuangan Beliau. T_T. 

Tahalul, selesai melaksanakan Sai yang berakhir di bukit Marwah. Kami pun melakukan Rukum Umroh keempat yaitu Tahalul (mengunting rambut). Rombongan kami pun meminta pada jamaah lainnya yang sudah tahalul untuk menggunting salah satu jamaah kami, setelah itu kemudian bisa menggunting rambut jamaah. Saya pun diguntingkan rambut oleh suami saya yang sudah tahalul. Tak lupa untuk membaca doa Tahalul, agar setiap helai rambut yang dipotong menjadi cahaya pada akhirat nanti. Aamiin ya Robbal Alaamiin. 

Alhamdulillah, rangkai ibadah umroh wajib berjalan dengan lancar dan tertib. Tertib artinya semua rukun umroh dilaksanakan dengan berurutan. InshaaAllah, Allah SWT menerima ibadah umroh kami. Aamiin.

Sekitar jam 1.30 dini hari kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. MasyaaAllah kota Makkah begitu dingin dan sejuk. Saya dan suami berpisah kamar. InshaaAllah jika tahun berikutnya umroh lagi kami request sekamar. Aamiin. :) dan kami janjian untuk bertemu jam 3 pagi untuk melakukan qiyamul lail ke Masjidil Haram. Alhamdulillah walaupun hanya tidur sekitar 1,5 jam namun Allah berikan kesehatan dan kemampuan untuk kami bersemangat beribadah di tanah haram, di kota suci, di kota yang Allah janjikan dimana Dajjal tidak akan memasuki 2 kota suci yaitu Makkah dan Madina. Allahu Akbar. Kami pun datang kembali memandangi dan melihat Ka'bah sepuas kami, ya Allah mumpung kami disini, ingin selalu berlama-lama di Masjidil Haram ini. Hingga selesai shalat subuh, saya dan suami mengitari Ka'bah dan memohon ijin untuk bisa melaksanakan shalat sunnah mutlak, atau shalat sunah 2 rakaat di Hijr Ismail. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ketika Aisya Ra ingin shalat sunah 2 rakaat di dalam Ka'bah, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan Aisyah untuk shalat di Hijr Ismail saja karena Hijr Ismail pun bagian dari dalam Ka'bah. Alhamdulillah atas ijin Allah SWT, saya dan suami bisa melaksanakan shalat sunah 2 rakaat. Kondisi Hijr Ismail saat itu begitu padat pada jamaah yang ingin shalat, sehingga kami harus menjaga satu sama lain untuk shalat agar tidak terinjak-injak. MasyaAllah. Terharunya tiada terkira bisa disini ya Allah, suasana yang syahdu dan adem. Setelah keluar dari Hijr Ismail, kami pun berjalan mendekati Rukun Yamani untuk mengusapnya sebagaimana sunah Rasulullah SAW. Disitupun saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengusapnya dan memegang Ka'bah. MasyaAllah harum kiswah Ka'bah yang selalu teringat di kepala, betapa lembut dan harumnya. Allahu Akbar. Keinginan untuk mencium Hajar Aswad dan berdoa di Multazam pun diurungkan saat itu karena sungguh padat jamaah lain. Kami pun berjalan menjauh dari  Ka'bah dan menuju Maqam Ibrahim untuk melihat tapak kaki nabi Ibrahim dengan jelas. 

Empat hari di kota Makkah rasanya begitu cepat, setelah hari pertama menjalani ibadah umroh wajib, hari kedua free program, hari ketiga melaksanakan umroh kedua (umroh sunah) pahalanya saya bisa untuk orang lain dan kami mengambil miqot di Masjid Jiranah. Tempat miqot yang ditentukan Rasulullah SAW untuk mengambil miqot umrah setelah pulang dari perang Hunain, inilah umroh ketiga beliau. Sebelum mengambil miqot di masjid Jiranah, kami sempat city tour ke Jabal Rahmah, melewati masjid Qiblatain, Makam istri Rasulullah (Khadijah), Jabal Uhud, dsb. Sepulang mengambil miqot untuk umroh kedua, kamipun menuju Masjidil Haram untuk Umroh sunah.

Hari berikutnya yaitu hari keempat, kami akan melaksanakan umroh Ba'dal (pahalanya bisa untuk yang sudah meninggal). Kami mengambil miqot di masjid Hudaibiyah, salah satu tempat miqot yang ditetapkan Rasul. Di sini juga Rasul menerima perjanjian Hudaibiyah dengan kafir Quraisy tentang kesepakatan tidak ada perang selama 10 tahun antara kaum muslimin dan kaum quraisy. Setelah mengambil miqot, kami pun menuju Masjidil Haram kembali untuk melaksanakan Umroh Ba'dal. Umroh ketiga (umroh Ba'dal) saya lakukan berdua saja dengan suami, tanpa ikut rombongan dengan muthawif. Sebelum Ashar kami pun menyelesaikan umroh Ba'dal. Keesokan harinya  jam 9 pagi kami rombongan melaksanakan Tawaf Wada (tawaf perpisahan). Selesai tawaf wada, kami menunggu hingga shalat dzuhur seebelum jam 2 siang kami harus bertolak ke kota suci kedua atau tanah haram kedua yaitu Madina Al Munawaroh. Sedih rasanya berpisah dan berdoa agar ini bukan yang terakhir kalinya, namun Allah SWT mencukupi kami kembali untuk beribadah di kota Suci Makkah Al Mukaromah ini. Aamiin. Kota yang begitu syahdu dan sejuk. MasyaAllah.

Perjalanan Makkah ke Madina sekitar 5-6 jam, 470 km. Subhanallah jauh banget Rasulullah SAW berjalan untuk melaksanakan perintah Allah yaitu berhijrah. Hanya dengan kendaraan yang sederhana. T_T. Ya Nabi Salam Alaika, ya Allah kini saya deg-degan untuk kedua kalinya, Deg-degan ingin mengunjungi rumah sekaligus makam kekasih Mu ya Allah, Rasulullah, HabibaAllah, NabiAllah, Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau. Masjid Nabawi, Madina Al Munawarah adalah tanah haram kedua yang Allah tetapkan, sekaligus kota yang tidak akan dimasuki oleh dajjal. Allahu Akbar. Di dalam Masjid Nabawi inilah rumah yang kini menjadi makam Rasul dan sahabatnya, serta Raudhah atau Taman surga sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa di antara rumah ku dan mimbar ku adalah taman surga (raudhah). Masya Allah, betapa kami umatmu ya Rasulullah SAW ingin shalat dan berdoa di taman surga yang  Allah turunkan di dunia. Ingin melaksanakan sunah2 mu ya Rasulullah, ingin sampaikan salam serta salawat untuk mu ya Rasulullah. Alhamdulillah jam 3 pagi pun saya janjian kembali dengan suami dan  mba Nida&suami untuk melakukan qiyamul lail di Masjid Nabawi dan berniat melaksanakan shalat di Raudhah. Untuk jamaah laki-laki tidak ada batasan waktu untuk shalat di raudhah, sedangkan jamaah wanita dibatasi jam 8 pagi dan jam 9 malam saja. Nanti ada petugas masjid khusus wanita yang mengarahkan. Untuk shalat di raudhah biasanya masuk dari Gate 25/pintu 25. Bisa tanya dengan para petugas masjid Nabawi, cari saja yang bermuka melayu/Indonesia yang tidak menggunakan cadar atau bahkan mereka sedang berbicara bahasa Indonesia dengan temannya, mereka adalah orang Indonesia yang bekerja untuk Masjid Nabawi. 

Raudhah, taman surga yang Allah turunkan di dunia. Disinilah tempat Rasul menyampaikan khutbah, tempat Rasul beritikaf, tempat Rasul berbaring. Ya Allah, salam serta salawat kami panjatkan untuk Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Disamping makam Rasul, adalah makam Abu Bakar Ra. Beliau meminta untuk dikuburkan disebelah makam Rasul jika meninggal kepada siti Aisyah, istri nabi Muhammad SAW. Kemudian Umar bin Khattab pun meminta kepada Siti Aisyah untuk dikuburkan disebelah kedua sahabatnya tersebut. Karena rasa hormat Siti Aisyah kepada Umar bin Khattab, ia pun mengijinkannya. Padahal Siti Asiyah sudah berencana untuk dikuburkan disamping suami dan ayah tercintanya. Masya Allah. Begitu lapang dan lembutnya hati istri Rasulullah, siti Aisyah. #terharu ya Allah lembutkan hati hamba sebagaimana Siti Aisyah Ra. Aamiin. T_T. Nikmatnya beribadah di 2 tanah haram, di 2 Masjid yang Allah muliakan, kekhusyuan dan persaudaraan seiman yang saya rasakan, berbagi shaf walaupun kami tidak kenal, walaupun beda negara, beda benua, berbeda bahasa, adat, kebiasaan, tatacara, namun kami tahu bahwa kami bersaudara seiman. Cukupkan rezeki kami untuk melaksanakan ibadah umroh/haji kembali ya Allah. untuk melaksanakan panggilan Mu kembali ya Allah. Aamiin ya Robbal Alaamiin.

8-16 Januari 2017/9-17 Rabiul Akhir 1438H.

Pandangi Ka'bah terus dan berdoa dengan pemilik Ka'bah supaya bisa kesini (lagi) untuk melaksanakan panggilan Mu ya Allah.... Aku datang memenuhi panggilan Mu ya Allah
Zamzam Tower menunjukan pukul 01.45 dini hari, seusai melaksanakan umroh wajib. alhamdulillah.
Di luar/pelataran Masjidil Haram

Foto diambil setelah shalat subuh, hendak mengitari Ka'bah dan berdoa ingin shalat di Hijr Ismail
Terima kasih ya Allah, panggil kami kembali. Aamiin.

Atas ijin Allah SWT. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah

Selesai melaksanakan tawaf wada, tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah
Kebesaran Allah SWT
Shalatlah di Hijr Ismail, karena itu bagian dari dalam Ka'bah. MasyaAllah.
Seusai shalat di Hijr Ismail, mengusap Rukun Yamani dan Ka'bah. Tepat dibelakang adalah Maqam Ibrahim.
Ka'bah tak henti diputari berlawanan arah jarum jam, sama hal nya dengan peredaran  tata surya dan galaxy, semua bertawaf dalam rangka beribadah dan beriman kepada Mu ya Allah
Air Zam Zam, air yang Allah janjikan tidak akan habis hingga akhir zaman
Burung dara itu banyak namun jalanan tidak terlihat kotor


Jabal Rahman, tempat bertemunya Nabi Adam As dan Siti Hawa. Nabi Adam diturunkan oleh Allah di daerah India dan Siti Hawa diturunkan oleh Allah di Jazirah Arab


Suasana di luar Masjid Jiranah, Makkah

Tampak Masjid Jiranah, Makkah


Salah satu sudut/pintu Masjidil Haram, Makkah

Museum Masjidil Haram/Ka'bah, disini tempat disimpannya interior/eksterior Ka'bah/Masjidil Haram yang sudah lama.

Contoh Maqam Ibrahim di museum 
Ya Nabi Salam Alaika, Masjid Nabawi, Madina Al Munawarah


Interior Masjid Nabawi

MasyaAllah



Di bawah kubah hijau itu lah rumah Rasulullah atau yang sekarang adalah makam Rasulullah dan juga Raudhah.


Masjid Quba, Madina. Masjid pertama di muka bumi yang dibangun oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya atas dasar taqwa
kebun kurma